TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP ALAT KONTRASEPSI MASIH RENDAH

Posted by: | Posted on: Januari 28, 2016

TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA TERHADAP ALAT KONTRASEPSI MASIH RENDAH

  1. Drs. Agus Supardi
  2. Udin Kurniawan Aziz, S.Sos.

ABSTRAK

Prevalensi pemakaian kontrasepsi, unmeet need, rendahnya peran serta KB pria dan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang alat kontrasepsi masih menjadi isu sentral dalam program Kependudukan dan KB. Berdasarkan hasil survey RPJM tahun 2015, masyarakat Bengkulu yang tahu tentang alat kontrasepsi moderen 34,43 %,  peserta KB yang tidak tahu tentang alat kontrasepsi sebesar 60,88 %. Hal inilah yang memicu masih banyaknya kasus kegagalan serta komplikas, hasil catatan rutin bulan desember2015 kasus kegagalan peserta KB MKJP sebanyak 49 kasus dan kasus komplikasi bagi peserta KB sebanyak 52 kasus. Pengetahuan laki-laki tentang alat kontrasepsi lebih rendah dari perempuan, hanya 31,43 % laki-laki yang tahu alat kontrasepsi. Masyarakat lapisan bawah banyak yang tidak tahu alat kontrasepsi, keterbasan akses, dana dan sumber informasi merupakan penyebab utama. Pengetahuan tentang alat kontrasepsi juga dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan pekerjaan ibu. Ibu yang pendidikannya rendah dan yang pekerjaan utama sektor perdagangan dan pertanian banyak tidak mengetahui alat kontrasepsi. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang alat kontrasepsi berimbas pada masih tingginya jumlah anak lahir hidup. Efektifitas kunjungan petugas seperti PLKB/PKB, petugas medis dan Pos KB lebih ditingkatkan supaya pengetahuan masyarakat tentang alat kontrasepsi juga semakin meningkat. Komunikasi, Informasi dan Edukasi tentang program KKBPK kepada masyarakat harus semakin intens dijalankan. Pengetahuan masyarakat tentang alat kontrasepsi yang semakin tinggi diharapkan mampu mendukung suksesnya pelaksanaan program KKBPK.

Kata Kunci :Tingkat pengetahuan alat kontrasepsi, meningkatkan pemilihan metode/cara/alat yang REE

lebh lanjut


Perempuan di Sektor Informal: Pemangku Ekonomi Gurem, Pekerja Tak Dibayar, danKeterbatasanAkses Perlindungan Sosial

Posted by: | Posted on: Januari 23, 2016

Perempuan di Sektor Informal:

Pemangku Ekonomi Gurem, Pekerja Tak Dibayar,

danKeterbatasanAkses Perlindungan Sosial

Disusun Oleh:

Titiek Kartika Hendrastiti

Nurhayati Darubekti

Executive Summary

Data tentang ketenagakerjaan dan perempuan tidak berubah signifikan selama tiga dekade terakhir, terutama di sektor informal.Secara global, angka perempuan di sektor informal masih mendominasi; dan mereka berada pada lapangan kerja non-pertanian.

Tren feminisasi sektor informal ini terjadi di Indonesia. Dalam dua tahun terakhir angka peluang kerja terbanyak bagi perempuan sektor informal ada di sektor pertanian dan perikanan, yaitu12,5 juta, diikuti oleh sektor jasa dan penjualan sebesar 12,3 juta. Sayangnya feminisasi ini tidak diikuti dengan peningkatan upah bagi pekerjaperempuan, tingkat upah mereka rata-rata terendah di Indonesia.

Di Provinsi Bengkulu, pada kurun waktu tahun 2012-2014, kecenderungannya mirip dengan Indonesia. Tren feminisasi juga tampak, meski ada kesenjangan jumlah dari laki-laki. Perhatian dalam melihat angka tersebut perlu diberikan untuk interval usia di atas 60 tahun. Baik laki-laki maupun perempuan di atas usia 60 lintas perkotaan dan perdesaan tahun menunjukkan peningkatan. Kontribusi kelompok di atas usia 60 tahun pada sektor informal ini menjadi pertanyaan, sekaligus menjadi bahan masukan pada kebijakan ketenagakerjaan.

Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan.

Gambaran perempuan pekerja sektor informal di perdesaan menunjukkan mayoritas pendidikannya SD dan berada pada sektor pertanian, perkebunan, kehutanan. Sementara untuk daerah perkotaan dominan berpendidikan SLTA dan ada di sektor non pertanian.

Selengkapnya

 


Buletin Semester 2

Posted by: | Posted on: Januari 9, 2016

Buletin Semester 2


BULETIN KEPENDUDUKAN PERIODE JANUARI – JULI 2015

Posted by: | Posted on: Oktober 24, 2015

BULETIN UNTUK WEB_001

LEBIH LANJUT


PERLINDUNGAN HAK KESEHATAN REPRODUKSI PADA PASANGAN USIA SUBUR BERPENDAPATAN RENDAH

Posted by: | Posted on: Oktober 22, 2015

PERLINDUNGAN HAK KESEHATAN REPRODUKSI PADA

PASANGAN USIA SUBUR BERPENDAPATAN RENDAH

Hasil susenas 2013 Pasangan Usia Subur kelompok umur 15 – 19 tahun dengan pendapatan per bulan dibawah Rp. 500.000,- tidak pernah ber-KB sebesar 11,19 persen dan pada kelompok umur 20 – 24 tahun sebesar 28,57 persen. Sedang yang ber-KB pada kelompok 15 – 19 tahun sebesar 0,60 persen dan 11,88 persen pada kelompok umur 20 – 24 tahun tertinggi pada kelompok umur 30 – 39 tahun sebesar 21,32 persen.

Keadaan yang perlu mendapatkan perhatian pada PUS kelompok usia 45 – 49 tahun dengan pendapatan dibawah 500.000 rupiah sebesar 31,22 persen dan 18,59 persen tidak ber-KB . Keadaan yang sama pada kelompok Pasangan Usia Subur yang berpenghasilan 500.000 – 1.500.000 pada PUS 15 – 19 tahun dan PUS 20 – 24 tahun tidak pernah ber-KB masing-masing 2,46 persen dan 33,84 persen. Dengan memperhatikan keadaan diatas PUS pada kelompok keluarga berpenghasilan rendah rentan drop out sebagai peserta KB.

Selanjutnya